Reshuffle Kabinet Prabowo: Konsolidasi Kekuasaan di Dalam Negeri, Bayang Otoritarianisme di Luar Negeri

Reshufle Kabinet Merah Putih, 8 September 2025.

Penulis: Monica Nathan

Jakarta, Selasa, 9 September 2025.

Senin, 8 September 2025, Istana Negara penuh drama. Presiden Prabowo Subianto merombak Kabinet Merah Putih. Lima menteri baru dan satu wakil menteri dilantik, dua kursi penting masih kosong.

Reshuffle ini dilakukan hanya beberapa hari setelah sebuah momen yang mengguncang: Prabowo berdiri di parade militer Beijing, sejajar dengan Vladimir Putin, Kim Jong Un, dan Xi Jinping.

Di dalam negeri, rakyat sedang turun ke jalan dalam jumlah besar—demo terbesar dalam sejarah pasca-Reformasi. Ironisnya, ketika rakyat menuntut keadilan dan demokrasi, sang Presiden justru hadir di panggung militer asing bersama pemimpin negara-negara otoriter.

Monica Nathan.

Sri Mulyani Tersingkir, Pasar Gelisah

Pergantian Sri Mulyani Indrawati dari Kementerian Keuangan adalah sinyal bahwa pemerintah lebih memilih loyalitas daripada kredibilitas global. Pasar saham turun, rupiah melemah. Investor meragukan apakah disiplin fiskal masih dijaga. Indonesia kehilangan wajah internasional yang selama ini dihormati dunia.

Sri Mulyani.

Sjafrie Sjamsoeddin: Super-Menteri, Orang Terdekat Prabowo

Lebih besar lagi adalah naiknya Sjafrie Sjamsoeddin. Menteri Pertahanan ini kini juga merangkap Menko Polhukam. Satu orang, dua kursi, dua kekuasaan. Dan orang itu adalah sahabat lama Prabowo, loyalis yang paling dipercaya.

Keamanan internal dan eksternal kini satu komando. Efisien, tapi berisiko mematikan check and balance. Militerisasi politik kembali terasa.

Syafrie Samsuddin.

Budi Gunawan: Putusnya Tali ke Megawati

Yang tergeser adalah Budi Gunawan, jenderal polisi yang sudah lama jadi orang dekat Megawati. Dari ajudan presiden, calon Kapolri, hingga Kepala BIN, BG adalah simbol “jenderal merah”. Dengan pencopotan ini, pengaruh Megawati di sektor keamanan resmi diputus. Lingkar kekuasaan kini sepenuhnya militeristik, sepenuhnya loyal kepada Prabowo.

Koperasi, Migran, dan Haji Jadi Panggung Politik
– Ferry Juliantono masuk ke Koperasi & UKM → koperasi diarahkan jadi saluran politik populis.
– Mukhtaruddin masuk ke Migran → pekerja migran jadi modal konsolidasi politik daerah.
– Mochamad Irfan Yusuf dan Dahnil Anzar memimpin Kementerian baru Haji & Umrah → pelayanan ibadah dipolitisasi.

Semua pergantian ini punya benang merah: loyalis dan politisi dekat menggantikan teknokrat.

Budi Gunawan.

Demokrasi Ecek-ecek

Reshuffle ini memperlihatkan wajah baru pemerintahan: lebih solid, tapi juga lebih tertutup. Sri Mulyani—figur kritis dan teknokratik—hilang. Budi Gunawan—wakil Megawati—disingkirkan. Sjafrie—orang terdekat Prabowo—jadi super-menteri. Kementerian sosial jadi alat politik.

Rury Afriansyah, Direktur PT Dani Tasha Lestari, pemilik Hotel Purajaya, kebanggan Melayu Kepri.

Lalu di panggung dunia, Prabowo berdiri bersama Xi, Putin, dan Kim—ikon negara otoriter. Sementara di tanah air, rakyat berteriak di jalan, melakukan demonstrasi dalam skala bersejarah.

Kontras ini mencolok. Indonesia di atas kertas masih demokrasi, tapi praktiknya semakin ecek-ecek. Kabinet makin loyal, rakyat makin kritis, dan citra internasional makin kabur.

Sejarah pengusiran warga Rempang, Kota Batam, pada September 2023, yang membawa luka tak pernah dibalut oleh pemerintah.

Pedang Bermata Dua

Bagi Prabowo, reshuffle ini adalah konsolidasi. Kabinet loyal, cepat, dan siap menjalankan agenda populis. Tapi bagi bangsa, ini pedang bermata dua.

Ekonomi bisa rapuh, ruang kebebasan semakin sempit, dan Indonesia kian terbaca dunia sebagai negara yang bergerak menjauh dari nilai-nilai keterbukaan.

Prabowo kini punya kabinet dalam genggamannya. Tapi rakyat juga sudah menunjukkan kekuatan jalanan. Dan dunia sudah melihatnya berdiri satu barisan dengan para pemimpin otoriter. Pertanyaannya: apakah Indonesia masih bisa meyakinkan bahwa demokrasi bukan sekadar label, melainkan kenyataan?

Profil penulis: Monica Nathan, konsultan di bidang teknologi informasi. Hidup di dunia modern, tapi hatinya selalu kembali pada akar: Melayu dan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *