Purajaya: Tumbal Keserakahan, Simbol Pengkhianatan

Monica Nathan.

Oleh: Monica Nathan

BANGUNAN Hotel Purajaya sudah rata dengan tanah. Hotel milik tokoh Kepri di Teluk Tering itu dirobohkan dengan alasan peralihan lahan bermasalah. Tapi benarkah hanya Purajaya yang bersalah? Atau Purajaya hanyalah tumbal keserakahan dalam grand plan besar menguasai Teluk Tering?

Janji Politik yang Palsu

September 2024, pasangan calon wali kota dan wakilnya, H. Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra, menandatangani janji politik: Sebanyak 37 titik Kampung Tua akan dilestarikan. Sertifikat tanah rakyat akan dipercepat. Penetapan Lokasi (PL) dan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) baru akan dihentikan.

Mana buktinya?
Kampung tua makin terjepit.
Sertifikat tak kunjung keluar.
Izin baru justru bermunculan.

Lalu siapa yang menanggung akibat? Purajaya. So-Called (yang katanya) PP 25/2025 dan PP 28/2025.

Purajaya dihantam sebelum lahirnya so-called PP 25/2025 dan PP 28/2025, aturan yang konon dibuat demi ”penyederhanaan perizinan.” Tapi faktanya? Juklak dan juknis belum ada. Pancang-pancang ilegal sudah berdiri di laut sejak enam bulan lalu.

Siapa yang memancang laut tanpa izin? Apakah nelayan kecil? Tidak. Itu mafia reklamasi.

Siapa yang melindungi mereka? Pejabat daerah? Oknum birokrat? Aparat yang menutup mata?

Direktur PT Dani Tasha Lestari, pemilik Hotel Purajaya.
Direktur PT Dani Tasha Lestari, pemilik Hotel Purajaya.

Keserakahan yang Dilindungi

Kenapa Purajaya dijadikan tumbal, sementara mafia dibiarkan?
Kenapa tokoh lokal dirobohkan, sementara proyek ilegal dipelihara?
Kenapa janji politik dilanggar, tapi oligarki dilayani?

Jawabannya satu: keserakahan.
Keserakahan yang haus akan lahan.
Keserakahan yang menukar mangrove dengan beton.
Keserakahan yang menjual laut dengan harga murah.

Kantor Konsorsium Pasifik yang diduga sindikat mafia tanah di Pulau Batam.

Kesimpulan

Purajaya bukan sekadar hotel yang runtuh.
Ia adalah simbol rakyat yang dikhianati.
Ia adalah bukti bahwa janji politik hanya alat menuju tahta.
Ia adalah cermin bahwa keserakahan selalu menang—selama mafia dipelihara.

Maka rakyat pun bertanya: Siapa yang rakus? Siapa yang lindungi mafia? Siapa yang biarkan laut dijual?

Dan selama pertanyaan itu tidak dijawab, Batam akan terus jadi panggung pengkhianatan—di mana Purajaya tumbang, tapi tiang-tiang mafia tegak di laut.

#PurajayaTumbalKeserakahan
#JanjiHancurRakyatMurka
#StopMafiaReklamasi(*)

Profil penulis: Monica Nathan, konsultan di bidang teknologi informasi. Hidup di dunia modern, tapi hatinya selalu kembali pada akar: Melayu dan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *