* Tragedi Purajaya di Kepri menjadi simbol luka sosial masyarakat Melayu, memperlihatkan bagaimana mafia, aparat, dan politik uang mengikis akar bangsa.
Penulis: Monica Nathan
HOTEL Purajaya di Kepulauan Riau bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol perjuangan keluarga Melayu, milik Megat Rurry Afriansyah, tokoh yang garis keturunannya ikut membentuk sejarah Kepri. Namun, hotel itu dihancurkan tanpa surat pengadilan. Tidak ada proses hukum, tidak ada perlindungan.
”Purajaya bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol perjuangan keluarga Melayu. Ketika dihancurkan tanpa hukum, yang hilang bukan hanya dinding, tetapi martabat,” ujar Rurry.
Peristiwa ini bukan sekadar soal hilangnya aset, tetapi luka sosial dan psikologis. Bagi masyarakat Melayu, ini adalah pesan pahit bahwa warisan mereka bisa dihapus kapan saja.
Di balik perobohan Purajaya, publik melihat bayang-bayang mafia dari luar daerah yang ingin menguasai Kepri. Mereka bukan sekadar mengejar keuntungan ekonomi, melainkan berupaya menyingkirkan tokoh-tokoh Melayu yang sejak awal membangun daerah ini.

Lebih menyedihkan, mafia itu tidak bergerak sendiri. Mereka diduga mendapat dukungan dari oknum aparat dan individu partai politik yang disuap untuk melancarkan langkah. Kolusi ini menjadikan tragedi Purajaya bukan hanya pelanggaran hukum, melainkan pelecehan terang-terangan terhadap martabat masyarakat Melayu.
”Apa artinya keadilan jika mafia bisa membeli hukum? Apa artinya persatuan jika akar bangsa sendiri dianggap tak penting? Melayu bukan musuh Indonesia. Melayu adalah akar Indonesia,” tegas Rurry.

Ironinya, bangsa ini lahir dari akar Melayu. Bahasa Indonesia—yang menjadi pemersatu 270 juta rakyat—adalah turunan langsung dari bahasa Melayu Riau. Tanpa Melayu, tidak ada bahasa persatuan. Tanpa bahasa persatuan, tidak ada Indonesia.
Namun yang terjadi justru sebaliknya: warisan Melayu kerap dipinggirkan. Ia dipandang sekadar ‘budaya daerah,’ bukan fondasi nasional. Peristiwa Purajaya menunjukkan bagaimana akar itu sedang terkikis oleh mafia, kolusi, dan politik uang, sementara negara memilih diam.
”Melayu bukan lemah. Melayu bukan hilang. Melayu adalah akar. Dan bangsa tanpa akar, akan tumbang,” tutup Rurry.
Tragedi Purajaya adalah alarm keras. Pemerintah pusat harus turun tangan. Presiden, aparat hukum, dan lembaga partai politik tidak boleh tinggal diam. Membiarkan mafia menguasai Kepri sama saja membiarkan bangsa ini kehilangan akarnya. Menghormati Melayu berarti menghormati Indonesia itu sendiri. (*)
Profil penulis:
Monica Nathan, konsultan di bidang teknologi informasi. Hidup di dunia modern, tapi hatinya selalu kembali pada akar: Melayu dan Indonesia.

