Ditulis oleh: Ir. Nazar Machmud
Jakarta, 4 Juli 2025.
KETIKA kasus Rempang mecuat karena para Menteri rakus memaksakan syahwatnya menjual listrik PLTS ke Singapura, Presiden Prabowo Subianto langsung berteriak: “Stop jual listrik ke Singapura. Kita tidak mau diatur oleh negara kecil.“
Kini lewat pemutusan 4 kontrak besar migas oleh Presiden Prabowo senilai 22,5 Miliar USD atau setara 367 Triliun rupiah kembali Presiden Prabowo Subianto berteriak: “Cukup sudah kita jadi sapi perahan Singapura.”
Apa artinya ini bagi peluang masa depan Kepri dikaitkan dengan Deklarasi 15 Mei 1999 untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kepri?
Berikut diulang kembali mimpi saya yang sangat prinsip untuk mendukung Sistem Ekonomi Pancasila yang secara tersirat telah digaungkan berkali-kali oleh Presiden Prabowo Subianto:

- Tenaga Listrik, untuk mendukung ptoduksi lokal
Kebijakan migas Presiden tersebut yang tidak lagi menjual gas ke Singapura merupakan peluang kebangkitan ekonomi setiap Kabupaten dan Kota di Kepri.
Apalagi Presiden Prabowo Subianto pernah berucap: “Pangan adalah yang paling utama. Pangan aman, negara aman.”
Prinsip lain dari Presiden Prabowo Subianto adalah seperti ketika memberi pengarahan kepada Menteri Transmigrasi terkait proyek Rempang Eco City. Presiden Prabowo Subianto berpesan: “Setiap kebijakan hendaklah berpihak kepada masyarakat, agar Kepri semakin maju dan masyarakat semakin sejahtera.”
Ketersediaan pasokan listrik yang mencukupi merupakan syarat paling mendasar untuk menggerakkan produksi di suatu daerah. Pada gilirannya kelak akan menggerakkan roda ekpnomi daerah tersebut.
Paling berpeluang memanfaatkan ketersediaan gas untuk pembangkit tenaga listrik yang tidak mengalir ke Singapura adalah Kepri.
Jalur pipa gas utama dari Corridor Blok di Sumsel, Tanjung Jabung dan lainnya di Jambi, serta gas Natuna sudah berkumpul di Batam.
Diperlukan menarik pipa bawah laut ke semua PLTG di setiap Kabupaten dan Kota. Bagi pulau-pulau kecil yg sulit dijangkau jaringan kabel bawah laut, APBD patut menganggarkan PLTS minimum batterij nya yang mahal.
Semua itu dimungkinkan bila PLN di Kepri bisa mandiri tidak diatur lagi oleh PLN Pekanbaru atau pun PLN Bukittinggi. PLN Kepri juga diharapkan mau ikut berdedikasi ikut berperan memajukan Kepri.

- Pelabuham Hub
Merespon keinginan Presidem Prabowo Subianto agar ada pelabuhan samudra atau pelabuhan hub yang bisa mengontrol perdagangan lewat Selat Melaka. Pelabuhsn Hub adalah adalah pelabuhan pengumpul utama dalam jaringan transportasi laut.
Pelabuhan hub berfungsi sebagai pelabuhan alih muatan peti kemas atau kontainer dalam jumlah besar dan berjangkauan pelayaran yang luas.
Pelabuhan hub karenanya perlu dilengkapi dengan infrastruktur yang modern dan canggih untuk kegiatan bongkar muat agar kerjanya cepat, aman, efektif dan efisien.
Selama ini perdagangan Kepri hanya dilayani oleh pelabuhan kecil yakni di Bintan adalah pelabuhan Sri Payung/Batu-6 dan pelabuhan Sri Bayintan/Kijang. Pelabuhan tujuan yetap saja sebatas Singapura.
Maksimum kontainer 22 box sekali angkut oleh kapsl tongkang dari pelabihan Sri Payung. Sedangkan daya angkut kapal dari pelabuhan Sri Bayintan maksimum daya angkutnya 40 box.
- Kebersihan Bebas Sampah Merupakan Investasi Daya Tarik Parawisata.
Kepri sangat kaya dengan betagam objek wisata mulai dari wisata alam, wisata bahari, wisata sejarah, wisata budaya, sampai wisata kuliner. Bahkan menurut turis Perancis, Gunung Daik memiliki beragam flora langka.
Namun apa yang kita saksikan kini di depan mata? Pantai pasir dan pesisir pantai di Singkep sudah rusak oleh erosi tambang pasir dan bauksit. Padahal ketika air surut sangat menarik wisatawan ‘berkarang’ di siang hari dan ‘menyuluh’ di malam hari.
Wisata bahari? Beragam jenisnya. Tapi bagaimana mungkin widatawan tertatik kalau perairannya keruh seperti di Karimun oleh ulah bisnis pasir laut ke Singapura? Belum lagi perairan Kepri banyak pula sampahnya.
Seluruh potensi wisata itu akan berujung pada wisata kuliner tanpa gangguan nyamuk dan lalat. Pedagang level UMKM tentu saja jadi enggan dikunjungi. Padahal semakin banyak wisatawan yang datang berkunjung seharusnya semakin sejahtera pula hidup masyarakat kelas menengah ke bawah di Kepri. (*)
Ir. Nazar Machmud adalah Penasihat Badan Pembentukan Provinsi Kepri.

